Setiap orang baik itu laki-laki atau perempuan
tua atau muda
kaya apalagi miskin
kerja apalagi kuliah
pasti pernah mengalami apa yang namanya kanker alias kantong kering
dapat d bayangkan gimana rasanya kan
bingung
mau ngutang ngga ada yang mau
daripada mengalami hal itu lebih baik ikuti tips di bawah ini agar terhindar dari situasi tidak menyenangkan itu.....
1. Hindari jajan ngga perlu
Kalau lagi banyak uang seringkali kita lupa dan Jajan berlebihan bahkan hal2 yang ngga terlalu perlu seperti pernak-pernik, nah kalaupun mau belilah barang yang punya nilai Jual meski kecil paling tidak bisa di jual saat kepepet, misalnya topi atau Sepatu
2. Simpan 50% uang di rumah
saat tertentu ada kalanya kita laper mata sampai2 mau beli ini itu jadi usahakan hanya bawa uang seperlunya di dompet
sekedar untuk makan dan transport
jadi biarpun habis masih ada sisa uang di rumah kan
3.cari temen yang tajir
ini ngga boleh lo sebenarnya, tapi kalau kepepet temen yang tajir n royal pasti mau kalau sekedar diajak makan2, bilang aja ngerayain Keberhasilan dia atau hari apa yang penting makan gratis n bebas keluar duit
4.Hemat
Ini susah banget di lakukan, hemat tapi bukan pelit
keluar uang seperlunya dan seefektif mungkin
5.Nabung
Cara ini paling efektif karena kalau uang habis bisa ambil tabungan atau congkel celengan, asal jangan jadi Celeng alias ngepet, he he
Nah, itu tips singkat tanggulangi kanker alias kantong kering
lebih baik mencegah daripada mengobati
lebih baik tanggulangi sebelum meratapi isi dompet kan
kalau ada saran lebih silahkan di share
Sumber : Pengalaman Pribadi n teman2
Wednesday, 7 March 2012
Sunday, 4 March 2012
Bersama Mentari
Pagi ini setelah sekian lama
mau kelola blog yang terbengkalai nih
sekalian cari-cari info yang pas buat posting
tentang alam deh
Gonjang-ganjing politik, ekonomi, dan pendidikan
saat ini mungkin lebih menarik perhatian publik
ketimbang isu lingkungan. Kelesuan ekonomi dan
kisruh politik lebih menggoda untuk dikritisi
dibandingkan kerusakan lingkungan yang
dampaknya baru terasa di masa depan. Jika
sudah begitu, dunia seperti apa yang akan
diwariskan kepada anak cucu?
Kita pun pernah mengenal Teori Malthus tentang
pertumbuhan populasi manusia yang mengikuti
deret ukur, sedangkan laju ketersediaan makanan
bersifat deret hitung. Namun, pada prakteknya,
kita tidak tahu bagaimama teori klasik itu bekerja.
Ketika populasi manusia sudah mencapai 7
Milyar orang, apakah bumi ini masih bisa
mendukung kehidupan manusia dengan nyaman?
Padahal, setiap hari polusi tersembur dengan
membawa zat-zat berbahaya dan juga CO2.
Lapisan ozon pun membuat tabir penghalang
makin terkuak dari radiasi. Kerakusan manusia
dalam mengekploitasi sumber daya alam
menyisakan hutan gundul, sungai tercemar, atau
degradasi kualitas lingkungan.
Kerusakan lingkungan tersebut sepertinya bukan
menjadi prioritas bagi bangsa ini, yang lebih
asyik-masyuk membicarakan isu terkini di bidang
politik dan ekonomi. Mungkin saya bisa salah dan
terlalu berlebihan untuk menyimpulkan itu.
Namun faktanya, kualitas udara semakin
memburuk. Sungai-sungai pun mengalami
pendangkalan dan polusi berat. Laju kerusakan
hutan masih sulit dicegah. Konversi lahan
produktif menjadi area bisnis dan perumahan
makin menjadi-jadi. Terlalu berlebihan kan jika
saya pesimis dengan masa depan bumi?
Masihkah kita peduli dengan lingkungan? Atau
jargon Indonesia sebagai zamrud katulistiwa atau
negeri bak ratna mutu manikam sudah ikutan
punah juga? Atau, biarkanlah itu terjadi saja. Toh,
masa depan masih jauh dari jangkauan. Masa
depan bukan untuk kita-kita ini yang masih repot
dengan segala urusan pada hari ini. Biarlah masa
depan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu
diintervensi oleh manusia masa kini. Duh,
rasanya tidak perlu sepesimis itu. Masih ada asa-
bahkan kalau itupun tinggal doa saja- yang bisa
membuat lingkungan masih bisa berseri nanti. Itu
tergantung seberapa pedulinya kita padanya saat
ini.
Harus diakui, pasti masih ada individu atau
institusi yang masih peduli dengan derita
lingkungan. Derita karena teraniaya oleh
penghuninya. Pemerintah pun punya Kementerian
Lingkungan Hidup. LSM yang bergerak dalam
masalah lingkungan pun pasti ada. Ya, pejuang-
pejuang lingkungan selalu terus berjuang di
tengah ketidakpedulian mayoritas. Apakah
kepedulian itu sudah mencukupi?
Ada baiknya kita melihat rapor kepedulian dari
kita – yakni pemerintah dan warganya- dalam
memenuhi target Millenium Development Goals
(MDG) yang dirilis oleh PBB untuk edisi tahun
2011/2012. Masih ada tiga tahun lagi sebelum
tenggat waktu pencapaian targetnya berakhir di
tahun 2015.
Apakah kita tidak terusik dengan rapor merah
untuk degradasi area hutan dan emisi CO2?
Apakah kita tidak miris melihat indikator air
minum sehat dan sanitasi dasar pun nyaris
merah?
—
Catatan:
Tabel di atas dikutip dari sini.
Website PBB tentang MDG bisa diakses di sini.
terus kapan kita bisa kembali seperti dulu ya...
Bumi yang sejuk, Pagi indah di tahun 1990
mau kelola blog yang terbengkalai nih
sekalian cari-cari info yang pas buat posting
tentang alam deh
Gonjang-ganjing politik, ekonomi, dan pendidikan
saat ini mungkin lebih menarik perhatian publik
ketimbang isu lingkungan. Kelesuan ekonomi dan
kisruh politik lebih menggoda untuk dikritisi
dibandingkan kerusakan lingkungan yang
dampaknya baru terasa di masa depan. Jika
sudah begitu, dunia seperti apa yang akan
diwariskan kepada anak cucu?
Kita pun pernah mengenal Teori Malthus tentang
pertumbuhan populasi manusia yang mengikuti
deret ukur, sedangkan laju ketersediaan makanan
bersifat deret hitung. Namun, pada prakteknya,
kita tidak tahu bagaimama teori klasik itu bekerja.
Ketika populasi manusia sudah mencapai 7
Milyar orang, apakah bumi ini masih bisa
mendukung kehidupan manusia dengan nyaman?
Padahal, setiap hari polusi tersembur dengan
membawa zat-zat berbahaya dan juga CO2.
Lapisan ozon pun membuat tabir penghalang
makin terkuak dari radiasi. Kerakusan manusia
dalam mengekploitasi sumber daya alam
menyisakan hutan gundul, sungai tercemar, atau
degradasi kualitas lingkungan.
Kerusakan lingkungan tersebut sepertinya bukan
menjadi prioritas bagi bangsa ini, yang lebih
asyik-masyuk membicarakan isu terkini di bidang
politik dan ekonomi. Mungkin saya bisa salah dan
terlalu berlebihan untuk menyimpulkan itu.
Namun faktanya, kualitas udara semakin
memburuk. Sungai-sungai pun mengalami
pendangkalan dan polusi berat. Laju kerusakan
hutan masih sulit dicegah. Konversi lahan
produktif menjadi area bisnis dan perumahan
makin menjadi-jadi. Terlalu berlebihan kan jika
saya pesimis dengan masa depan bumi?
Masihkah kita peduli dengan lingkungan? Atau
jargon Indonesia sebagai zamrud katulistiwa atau
negeri bak ratna mutu manikam sudah ikutan
punah juga? Atau, biarkanlah itu terjadi saja. Toh,
masa depan masih jauh dari jangkauan. Masa
depan bukan untuk kita-kita ini yang masih repot
dengan segala urusan pada hari ini. Biarlah masa
depan menemukan jalannya sendiri tanpa perlu
diintervensi oleh manusia masa kini. Duh,
rasanya tidak perlu sepesimis itu. Masih ada asa-
bahkan kalau itupun tinggal doa saja- yang bisa
membuat lingkungan masih bisa berseri nanti. Itu
tergantung seberapa pedulinya kita padanya saat
ini.
Harus diakui, pasti masih ada individu atau
institusi yang masih peduli dengan derita
lingkungan. Derita karena teraniaya oleh
penghuninya. Pemerintah pun punya Kementerian
Lingkungan Hidup. LSM yang bergerak dalam
masalah lingkungan pun pasti ada. Ya, pejuang-
pejuang lingkungan selalu terus berjuang di
tengah ketidakpedulian mayoritas. Apakah
kepedulian itu sudah mencukupi?
Ada baiknya kita melihat rapor kepedulian dari
kita – yakni pemerintah dan warganya- dalam
memenuhi target Millenium Development Goals
(MDG) yang dirilis oleh PBB untuk edisi tahun
2011/2012. Masih ada tiga tahun lagi sebelum
tenggat waktu pencapaian targetnya berakhir di
tahun 2015.
Apakah kita tidak terusik dengan rapor merah
untuk degradasi area hutan dan emisi CO2?
Apakah kita tidak miris melihat indikator air
minum sehat dan sanitasi dasar pun nyaris
merah?
—
Catatan:
Tabel di atas dikutip dari sini.
Website PBB tentang MDG bisa diakses di sini.
terus kapan kita bisa kembali seperti dulu ya...
Bumi yang sejuk, Pagi indah di tahun 1990
Subscribe to:
Posts (Atom)